vrijdag 23 mei 2008

ketemuan dengan Tiwi

Kemarin Tiwi datang ke Den Bosch, karena Noni sedang ada tamasya dengan teman-teman sekolahnya, jadi kami bisa bebas jalan-jalan keluar masuk toko sambil ngobrol, ini salah satu hiburan para desperate housewives. Aku jemput Tiwi di station, sekalian mau nanya tentang tiket kereta di bagian informasinya. Waktu aku naik kereta ke Leiden, kan dapat tiket gratis dari seorang kondektur. Karena aku ragu-ragu dengan keabsahan tiketnya. Kalau aku baca tulisannya sepertinya ada kata-kata yang membuat aku ragu. Mbak bagian informasinya bilang kalau aku boleh pake tiket itu kapan saja, tapi ada tapinya nih, aku ternyata harus tetap beli tiket. Dengan menunjukkan tiket gratisan tsb, aku bisa duduk di kereta kelas 1. Waktu aku dengar penjelasan tsb, aku ketawa dalam hati, ternyata pak kondekturnya telah membohongi aku. Untung aku tanya dulu sebelum naik kereta, coba kalau aku pake tiketnya terus ketahuan aku akan kena denda. Padahal aku sudah punya rencana mau jalan-jalan memanfaatkan tiket tsb. Rencana terpaksa dirubah jalan-jalan di suatu kota seharian.

Lanjut dengan jalan-jalan sama Tiwi, setelah keluar masuk beberapa toko, beli beberapa barang kortingan. Mata jadi ijo lihat ada kortingan disebuah toko, yang tadinya tidak beli jadi beli juga. Sebelumnya kami duduk-duduk sebentar makan lumpia Vietnam sambil lihat orang lewat. Kemudian Tiwi mesti pulang ke rumah, karena aku belum puas ngobrol aku ikut ke station. Disana ngobrol dilanjutkan dengan minum segelas capuchino sambil menunggu keretanya datang.

Malam harinya aku datang ke milis merajut Stich n Bitch diantar Henri. Ternyata yang datang hanya aku dan Franna. Jadilah seperti les privat saja. Karena benang yang aku pake jenisnya acrilic murahan, yang katanya kalau setelah dicuci beberapa kali akan rusak dan dipakai panas, maka vest yang sedang aku rajut tidak aku teruskan. Buat apa sudah capek-capek merajut, kok beberapa kali dipake vestnya rusak. Aku dikasih beberapa wol hasil memintal sendiri dari bulu domba. Aduh senangnya aku.. rejeki nomplok. Ternyata hasil rajutan pake wol bulu domba dan acrilic beda, tarikannya juga beda. Memang ia rutin beli bulu domba dari perternakan dengan harga murah, lalu dipintal dan dikasih warna sendiri. Di tempatnya Franna tergeletak banyak benang wol. Ia banyak merajut topi, syal dll untuk diberikan pada gelandangan. Sambil merajut kami ngobrol-ngobrol dari A sampai Z, seperti biasa kalau tidak ada orang ketiga di arena mengobrol, aku malah berani ngomong banyak. Jam 11 malam Henri baru menjemput aku.

maandag 19 mei 2008

Sebel...

Aku kan pernah cerita kalau tempat kerjaan suami tahun 2011 mau ada rencana phk gede-gedean, katanya mau ada otomatisasi.. 80 % harus keluar.. Tapi itu si I atasannya suamiku kok sudah ngoprak-ngoprak untuk segera nyari kerjaan baru, ia nyuruh buat surat lamaran, dan ia nawarin bantu-bantu. Akan dicoach. Ini kan masih 3 taun lagi. Sampe aku bilang sama suami kalau I masih terus menekan, coba apa yang diomongkan dimasukkan ke telinga kiri dan dikeluarkan ke telinga kanan. Henri cerita, kalau ia sudah ngotot bilang kalau ia mau tetap kerja sampe taun 2011, tapi I tetap aja nekan. Rasanya pengen mbalang I pake sandal jepit wae. Aku jadi emosi. Taun 2010 kami harus pindah rumah lagi. Ketambahan diphk lagi.. Wes wes.. Tapi aku tetap yakin semua pasti ada jalan keluarnya. Siapa tahu 3 taun lagi ada kerjaan yang pas buat suami.

Selasa kemarin karena sudah janji dengan orang-orang milis merajut, akhirnya aku datang juga.
Naik sepeda agak ngebut, sampe-sampe nyalip beberapa orang, akhirnya nyampe sana tepat waktu. Ternyata tempatnya kecil banget, sepertinya khusus disewa untuk kumpul bareng merajut, karena disana ada banyak kotak wol. Aku yang biasanya malu-malu kalau ketemu sama orang baru, kemarin untungnya gak. Disana ketemu sama yang namanya Frana, cerita kalau ia barusan dari Amrik, mengunjungi anak laki-lakinya. Ia habis ke NY ke toko wol, The Purl. Katanya ia bawa beberapa benang wol gratisan. Jadi ngiler juga liat benang yang cakep-cakep. Disana ada cewek China namanya Linda, tapi ia tinggal lama di Swedia. He.he.. pas ditanya aku sedang buat apa, dengan malu-malu kukeluarkan garapanku. Lha piye mereka kan sudah bertahun-tahun merajut. Aku masih piyek. Ini aku sedang buat vest. Frana bilang kok benangnya hitam, kenapa memangnya tanyaku. Benang hitam itu paling susah lho, kita susah ngecek kalau ada tusukan yang salah. Aku bilang iya aku pilih hitam, karena warna netral.
Jadilah kami merajut sambil ngobrol, bayanganku kan yang datang banyak, tapi ternyata hanya 3 orang termasuk aku.

Aku merajut dengan mata yang berat, lha biasanya sudah mimpi. Tapi mau pulang kok males, asyik merajut dengan mereka. Sempat sms dengan Henri bilang jam berapa aku mau pulang, akhirnya aku bilang sama mereka, kalau aku harus pulang, karena tidak biasa naik sepeda sendiri malam-malam, ternyata Linda nawarin pulang bareng, karena ternyata rumahnya searah dengan rumahku. Akhirnya kami naik sepeda bareng ke rumah. Ternyata rute kita naik sepeda itu menurut Henri bahaya, karena banyak lampu lalu lintasnya, dan lewat daerah yang banyak semak-semaknya

zondag 11 mei 2008

Ke Keukenhof

Kemarin aku sama Ekani dan mbak Sri janjian dolan ke Keukenhof. Bangunnya agak kesiangan, jam 6 bangun, langsung siap-siap buat bekal roti, mbungkus bakmi sisa kemarin, dan ngisi 2 botol dengan air kran. Ingat pesan mbak Sri, makanan disana mahal. Habis itu mandi kebo, pake baju, dan cepat jalan kaki menuju ke station. Karena sudah beli tiket kereta khusus ns di toko Kruidvat seharga 10 E (untuk naik kereta di wiken, bisa dipake seharian kemana aja) Untung ada tiket murah itu, kalau gak aku harus bayar 24 E, medit ya aku seperti londo wae. Harus ganti kereta di Utrecht, gerbong kereta masih sepi pi, aku satu-satunya penumpang di gerbong, ketika enak-enak baca novelnya Agatha Christie, eh aku disapa sama pak kondektur, orang Indonesia ya..Ia bilang suka sama wanita Asia, maunya sama orang Indo atau Pilipina, orang Thai gak. Nawarin kopi, aku bilang gak mau, trus ia ngajak duduk di kursi yang hadap-hadapan. Bilang aku lief, gombal mukio ah....Wah kalau kita dulu ketemuan di Ind pasti kamu sudah aku ajak nikah.... ha..ha.. gombal banget..Ujung-ujungnya ia nawari aku tiket kereta gratisan bisa dipake kemana aja seharian. Tentu aja yang ini tidak aku tolak. Tapi sayang berlakunya hanya sampe akhir Mei. Mauku manfaatin orang itu sebagai teman ngobrol praktek bhs londo. Karena kan tau sendiri orang Londo jarang yang baik. Ketika sampe di station Leiden, sambil berjalan menuruni tangga ia ngajak ngopi, di bawah kuliat Ekani dan mbak Sri. Aku dah-dah aja sama pak kondektur. Sambil ketawa-ketawi mereka tanya kok bisa kenalan sama pak itu. Kutunjukkan tiket gratisannya, sayang mereka sampe akhir Mei sudah ada acara, yo wes, aku pergi sendirian saja nanti.





Nunggu bis ke Keukenhof, ketika bis datang, kami naik bis, mau kami beli tiket combi (tiket yang bisa dipake naik bis dan masuk ke keukenhof) ternyata beli tiket combi di station, lari-lari kami kembali ke statiun, setelah bayar, kami kembali ke bis yang untung belum berangkat. Sampe disana, kami tidak perlu antri beli tiket masuk. Pengunjungnya belum banyak, makin siang pengunjungnya tambah. Dimana-mana banyak orang jalan. Mau moto aja susah. Sayang ladang hamparan bunga tulipnya sudah tidak ada. Tulipnya semua bagus, narcisnya kumat, gak tahan liat tulip bagus maunya poto-potonan. Jalan terus, lama-lama lapar dan haus juga.. Bekal mie goreng disantap sambil duduk di bangku. Eh ada lho wong-wong londo ngintip bekal kami, mau ingin tahu aja bekal kami.





Karena kami ingin liat centrum Leiden, kami mutuskan pulang. Ketika nunggu bis berangkat, kami ketemu sama 4 ibu-ibu tua, ternyata mereka berasal dari Pennsylvania. Mereka pensiunan guru, 21 hari mereka keliling Eropa.





Di centrum Leiden liat-liat pasar, orang-orang duduk di teras cafe, banyak juga yang naik perahu boat. Eh ternyata aku harus ke Rotterdam, ke rumah Ekani untuk ambil titipannya Henri, padahal sebenarnya males juga. Akhirnya berangkat juga kesana. So akhirnya seharian kemarin dengan tiket 10 E, aku akhirnya keliling kemana-mana.. Leiden dan Rotterdam, yang normalnya harus bayar 5o E.

Di rumah Ekani masih disuguhi makan malam. Habis makan aku pulang. Karena aku berusaha jujur sama bojo, ya aku critani saja apa adanya tentang kondektur tsb. Bola-bali aku tanya, kamu gak cemburu, jawabnya gak, ngapain cemburu, aku tahu betul siapa kamu.