dinsdag 17 juni 2008

Salah naik gerbong kereta



Mau pamer vest hasil rajutan. Belum aku finishing touch, benangnya masih seliweran, lobang lengan dan kerah masih harus dicrochet atau dihaken. Masih males. Warnanya menurut kalian bagus apa gak? Sebenarnya bagusnya hitam ya, netral gitu bisa cocok sama warna apa aja.



Sabtu kemarin masih dalam rangka memanfaatkan tiket kereta murah dari Kruidvat, aku, Ekani dan mbak Sri pergi ke Maastricht. Kota paling selatan dekat perbatasan Belgia dan Jerman. Karena kami tinggal di kota yang berbeda. Maka diputuskan ketemu di Maastricht saja.

Aku berangkat dari Den Bosch jam 08.38. Di peron kulihat di papan tertulis gerbong belakang jurusan Heerlen, berarti kan ke Maastricht gerbong depan. Liat itu aku sengaja duduk di gerbong tepat dibelakang ruang masinis. Aku duduk sebelah seorang ibu-ibu tua, ia mau ke Maastricht juga. Di kereta rame banget, ada rombongan ibu-ibu suaranya berisik banget seperti tawon mendengung. Ketika sampe di Eindhoven, ada pengumuman aku gak begitu jelas umumkan apa. Banyak orang turun, ibu sebelah pindah ke tempat duduk. Aku tahu kalau mbak Sri dan Ekani saat itu sudah tiba di Eindhoven dan naik kereta yang aku tumpangi, tapi aku males nyamperi mereka. Di stasiun tsb kereta jurusan Heerlen dan Maastricht diputus. Yang satu ke Heerlen dan yang lain ke tujuan lainnya. Kemudian ada suara.. Anda duduk di gerbong menuju Heerlen. Dengar itu, aku sudah agak curiga, tapi tetap pede aja duduk.

Beberapa saat kemudian kereta sampe di sebuah stasiun, ketika kubaca nama Heerlen aku mulai senewen. Ibu yang duduk disebelahku kemudian pindah kursi nyamperin aku, ia bingung juga. Katanya ia sering naik kereta ke Maastricht baru kali ini ia mengalami hal ini. Pada saat itu aku dapat sms dari Ekani kalau ditunggu dekat mesin beli tiket otomatis. Aku bilang kalau duduk di gerbong yang salah. Ya wes ditunggu sama mereka sampe aku datang. Aku dan ibu tsb nyari-nyari info di stasiun yang kecil tsb, ternyata menuju ke sana adanya keretanya stop trein yang berhenti di setiap stasiun. Yasud kami hanya bisa nunggu saja. Sempat nelpon Henri aku nyuruh dia nyari jarak ke sana. Mulailah datang penyesalan, kenapa tidak turun di Eindhoven nyari teman-teman dsb.

Sampelah aku di stasiun dimana sudah ditunggu sama teman-teman. Nyampe disana aku nelpon lagi tanya posisi mereka dimana, tapi mereka kok gak muncul-muncul. Kemudian aku jalan menuju arah sebuah peron, sekelebat aku liat mereka. Heh aku ada disini lho teriakku , kok mereka malah lari-lari. Mereka bilang sebentar, mau diperiksa kartu identitasnya. Kuliat kok mereka mengikuti marechese (tulisan piye aku ora ngerti) pokoknya sebuah polisi. Daripada aku diperiksa juga mending aku menyingkir. Setelah beberapa saat pemeriksaan selesai juga. Ternyata ada pemeriksaan acak untuk orang-orang yang ada di stasiun, apalagi mereka duduk lama disana. Sialnya Ekani kemana-mana selalu bawa kopian kartu permanent resident, dan mereka ngira kopian palsu, untung ia bawa kartu bank juga, jadi selamatlah mereka. Baru kali ini aku liat ada pemeriksaan kartu ID di stasiun, mungkin karena letaknya di perbatasan dan kota itu


terkenal berkeliaran drugdealers dari Amsterdam, Rotterdam. Mereka jualan ke para turis.

Lalu kami berjalan ke arah pusat kota, kotanya bagus banget. Kotanya rame banget dengan orang-orang. Kuliat cafe-cafe penuh dengan orang-orang makan. Kami ikut city tour naik kereta kecil cuma bayar 5 euro utk 3/4 jam. Muter-muter liat gedung-gedung tua. Habis itu kami nyari bangku, cacing di perutku sudah teriak-teriak minta makan. Namanya saja orang Ind, bekal kami berisi nasi, indomie.

Setelah puas jalan pulanglah kami ke rumah masing-masing.





































donderdag 12 juni 2008

Ke Utrecht

Akhirnya kemarin Rabu jadi juga ke Utrecht. Sempat takut sih kalau bis kota disana sedang mogok jalan. Buat info aja hampir semua bis milik perusahaan Ariva dan Connextion sudah beberapa minggu mogok, ceritanya para sopir minta kenaikan gaji. Ternyata bis disana masih jalan karena pengelolanya perusahaan GVU. So setelah turun dari kereta aku cepat-cepat menuju ke pangkalan bis kota.

Setelah 10 menit sampe juga ke rumah Ira. Disana disambut sama nyonya rumah dan Milo anjingnya Ira. Kemudian kami duduk diluar kebetulan cuacanya bagus. Kami ngobrol disambi Ira nggoreng lumpia. Aku cerita kalau ingin nyari benang merajut di toko sebelum pulang. Eh kebetulan Ira punya ide yang sama, dan hari itu ada pasar.

Cepat-cepat Ira mempersiapkan perlengkapan Isabelle. Setelah semua dirasa lengkap berangkatlah kami naik bis ke centrum. Ira sempat nelpon Soes yang sedang kerja untuk makan siang bersama kami, sebelumnya aku peseni jangan bilang-bilang ke Soes kalau aku ikut. Aku kenal Soes juga. Sebelum aku kenal Ira, aku kenal Soes lebih dulu. Dulu aku sering main ke rumahnya. Sudah lama aku tidak ketemu dia. Kami naik ke atas ke pusat perbelanjaannya, setelah nunggu beberapa menit muncullah Soes. He.he.. ia sudah menduga kalau yang diajak Ira itu aku. Kemudian kami jalan menuju ke restorannya V&D. Kami memesan masakan yang sama. Masakannya seperti di wok restoran, kami milih sayur sendiri, kemudian sayurnya diserahkan ke koki untuk dimasak. Sayurnya diolah dengan bakmi. Enaknya. Sambil makan kami ngobrol hanya sekitar 1 jam, karena Soes harus kembali bekerja.

Kemudian kami berjalan ke arah pasar. Langsung menuju ke penjual benang. Eh aku nemu benang seharga 1 euro segelondong. Kalau gak salah harga sebenarnya 3.50 euro. So aku beli aja 3 gelondong.

Lalu kami jalan menuju arah centrum ke toko benang. Wah disana benangnya bagus-bagus tapi harganya juga bagus-bagus. Aku beli seplastik benang yang ada tulisannya segelondong 2.50 euro dan 2 jarum dari bambu. Kami masuk juga ke beberapa toko. Setelah puas liat-liat kami pulang.

Aku juga dapat beberapa benang dan jarum knitting dari Ira. Ceritanya Ira punya beberapa jarum yang dobel. So aku pulang dengan bawa plastik besar berisi beberapa knitting dan jarumnya. Sampe di rumah ternyata Henri belum nyampe rumah, cepat-cepat aku simpan benangnya sebelum diomeli. Karena aku masih punya banyak benang yang belum dibuat eh masih saja suka bela-beli benang. Baru aja masuk kedalam eh Henri datang, untung benangnya sudah aku simpan yang rapi di dus. Pyuh tepat waktu. Barang yang kutunjukkan hanya jarum dan benang dari Ira. Dan tanggapannya wah kamu sekarang bisa buka toko sendiri.